Mukmin dan Pohon
Kurma
oleh Kholid bin
Syamhudi Al Bantaniy
قَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً
لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ فَحَدِّثُونِي مَا هِيَ
فَوَقَعَ النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي قَالَ عَبْدُ اللَّهِ وَوَقَعَ فِي
نَفْسِي أَنَّهَا النَّخْلَةُ فَاسْتَحْيَيْتُ ثُمَّ قَالُوا حَدِّثْنَا مَا هِيَ
يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ
Rasulullah bersabda:
“Sesungguhnya ada di antara pepohonan, satu pohon yang tidak gugur daunnya.
Pohon ini seperti seorang muslim, maka sebutkanlah kepadaku apa pohon
tersebut?” Lalu orang meneka yang ia pokoko di wadhi. Berkata Abdullah: “Lalu
terdetik di dalam diriku, pohon itu adalah pohon kurma, namun aku malu
mengungkapkannya”. Kemudian mereka berkata: “Wahai Rasululloh beritahulah kami
pohon apa itu?” Lalu baginda menjawab: Iia adalah pohon kurma”.
Takhrij
Hadits ini diriwayatkan oleh imam
al-Bukhori di dalam shohihnya kitab Al Ilmu, bab Qaulul Muhadits Hadatsanaa no.
61 (1/145-Fathul Bariy) dan Muslim dalam shohihnya kitab Sifatul Munafiqin bab
Mitslul mukmin matsalun Nakhlah no. 7029 (17/151- Syarah Nawawiy)
Syarah Mufradat Hadits.
1.
إِنَّ
مِنْ الشَّجَرِ شَجَرَةً لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا وَإِنَّهَا مَثَلُ الْمُسْلِمِ :
terdapat persamaan dan
penyerupaan seorang muslim dengan pohon yang tidak gugur daunnya, iaitu pohon
kurma
2.
فَوَقَعَ
النَّاسُ فِي شَجَرِ الْبَوَادِي :
akal fikiran mereka menerawang
kepada pepohonan di wadhi. Setiap orang menafsirkannya dengan salah satu jenis
pepohonan tersebut, namun lupa dengan pohon kurma
3. الْبَوَادِي
: b
entuk jamak dari Badiyah yang bermakna dataran luas yang ada
padanya tumbuhan dan air.
4. قَالَ
عَبْدُ اللَّهِ :
Abdullah ini adalah Abdullah bin Umar, sahabat yang
meriwayatkan hadits ini dari Rasululloh.
5. فَاسْتَحْيَيْتُ :
sebab malu beliau, kerana beliau paling kecil daripada para
sahabat yang hadir waktu itu, sebagaimana dijelaskan di dalam riwayat al-Bukhoriy
di kitab Al Ath’imah: “Aku adalah orang kesepuluh dan aku yang paling kecil”.
6. هِيَ النَّخْلَةُ :
pohon kurma. Tentulah pohon ini memiliki keistimewaan sehingga
dijadikan sebagai permisalan bagi seorang muslim. Tidak hanya ini saja bahkan
Allah memberikan permisalahan kalimat thoyibah dengan pohon ini dalam
firmannya:
أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ
بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ
يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu kamu perhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang
baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan
buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim
24-25)
Ibnu Hajar berkata: “Imam al-Bukhori telah membawakan hadits
ini juga dalam tafsir firman Allah:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ
ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَة
Sebagai isyarat dari beliau bahawa yang dimaksud dengan
pohon yang baik itu adalah pohon kurma. Memang telah ada riwayat yang tegas
dari hadits yang dikeluarkan oleh Al Bazaar dari jalan periwayatan Musa bin
‘Uqbah dari Naafi’ dari Ibnu Umar, beliau menyatakan bahwa Rasululloh n membaca
ayat ini dan bersabda: “Apakah kalian tahu pohon apakah itu?” Ibnu Umar
menyatakan: “jelas itu adalah pohon kurma, namun usiaku yang kecil menahanku
untuk berbicara”. Lalu Rasululloh berkata: “ia adalah pohon Kurma”.
Dengan demikian, Pohon yang baik disini ditafsirkan dengan
pohon kurma dan ini adalah pendapat banyak ulama salaf, di antaranya: Ibnu
Abbas, Mujahid, Masruq, Ikrimah, Ad Dhohaak, Qatadah dan Ibnu Zaid. Pendapat
ini dikuatkan oleh hadits yang diriwayatkan Ibnu Hibbaan daripada jalan
periwayatan Abdul Aziz bin Muslim dari Abdullah bin Dinaar dari ibnu Umar bahawa
Rasulullah bersabda:
مَنْ
يُخْبِرُنِيْ عَنْ شَجَرَةٍ مِثْلُهَا مِثْلُ الْمُؤْمِنِ أَصْلُهَا ثَابِتٌ
وَفَرْعُهَا فِيْ السَّمَاءِ
“Siapakah yang dapat menyebutkan kepadaku satu pohon yang
menyerupai seorang mukmin, pokok batangnya kukuh dan cabangnya menjulang
kelangit?”.
Semua ini menunjukkan pohon kurma memiliki keutamaan,
ketinggian dan keistimewaan. Semua ini telah ditunjukkan dalam ayat diatas.
Namun cukuplah dengan dijadikan sebagai permisalahan seorang muslim menunjukkan
ketinggian dan keistimewaannya.
Syarah Hadits.
Nabi di dalam hadits ini memberikan permisalan dan
menyerupakan seorang muslim dengan pohon kurma. Tentunya hal ini menunjukkan
adanya sisi kesamaan antara keduanya. Memang untuk mengenali dan mengetahui
sisi kesamaan ini perlu mendapat perhatian yang cukup, apalagi Allah telah
menjelaskan hal ini agar manusia selalu ingat kepadaNya, sebagaimana firmanNya:
أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ
رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu kamu perhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang
baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan
buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim
24-25)
Diantara sisi kesamaan muslim dengan pohon kurma adalah: :
1. Pohon kurma mesti memiliki akar, pangkal
batang, cabang, daun dan buah, demikian juga pohon keimanan, memiliki pokok,
cabang dan buah. Pokok imam adalah rukun iman yang enam dan cabangnya adalah
amalan sholeh dan aneka ragam ketaatan dan ibadah. Sedangkan buahnya adalah
semua kebaikan dan kebahagiaan yang didapatkan seorang mukmin didunia dan akhirat.
Imam Ahmad berkata: “perumpamaan
iman seperti pohon kerana pokoknya adalah syahadatain, batang dan daunnya
demikian juga. Sedangkan buahnya adalah sikap wara’ (hati-hati). Tidak ada kebaikan
pada pohon yang tidak berbuah dan tidak ada kebaikan pada orang yang tidak
punya sifat wara’”.
Imam Al Baghawiy menyatakan:
“Himah daripada penyerupaan iman dengan pohon adalah pepohonan tidak dikatakan
sebagai pohon (yang baik) kecuali memiliki tiga hal. Memiliki akar yang kuat,
batang yang kukuh dan cabang yang tinggi. Demikian juga iman, tidak sempurna
iman kecuali dengan tiga hal, iaitu pembenaran hati, ucapan lisan dan amalan
anggota tubuh”.
Demikian juga Ibnul Qayyim mengomentari hal ini di dalam pernyataan beliau:
“Ikhlas dan Tauhid adalah satu pohon di hati, cabangnya adalah amalan dan
buahnya adalah kehidupan yang baik di dunia dan nikmat yang abadi di akhirat.
Sebagaimana buah-buahan syurga tidak terputus dan tidak terhalang daripada mengambilnya,
maka buah tauhid dan ikhlas di duniapun sedemikian. Adapun kesyirikan, dusta
dan riya’ adalah satu pohon di hati, buahnya di dunia perasaan takut, sedih,
duka, kesempitan dan kegelapan hati dan buahnya di akhirat buah zaqqum dan
adzab yang abadi. Kedua pohon ini telah dijelaskan Allah dalam surat
Ibrohim”.
- Pohon
kurma tidak akan bertahan hidup kecuali dengan disiram dan dipelihara.
Disiram dengan air, jika tidak maka akan kering dan jika ditebang maka
mati. Demikian juga seorang mukmin tidak dapat hidup yang hakiki dan
istiqomah kecuali dengan siraman wahyu. Oleh kerana itulah Allah menamakan
wahyu dengan ruh dalam firmanNya:
وَكَذَلِكَ
أَوْحَيْنَآ إِلَيْكَ رُوحًا مِّنْ أَمْرِنَا مَاكُنتَ تَدْرِي مَا الْكِتَابُ
وَلاَ اْلإِيمَانُ وَلَكِن جَعَلْنَاهُ نُورًا نَّهْدِي بِهِ مَن نَّشَآءُ مِنْ
عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيمٍ
Dan demikianlah Kami wahyukan
kepadamu ruh/ wahyu (al-Qur'an) dengan perintah Kami.Sebelumnya kamu tidaklah
mengetahui apakah Al-Kitab (al-Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman
itu, tetapi Kami menjadikan al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia
siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami.Dan sesungguhnya kamu
benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. 42:52) dan firmanNya:
يُنَزِّلُ
الْمَلاَئِكَةَ بِالرُّوحِ مِنْ أَمْرِهِ عَلَى مَن يَشَآءُ مِنْ عِبَادِهِ أَنْ
أَنذِرُوا أَنَّهُ لآإِلَهَ إِلآأَنَا فَاتَّقُونِ
Dia menurunkan para malaikat
dengan (membawa) wahyu dengan perintah-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki di
antara hamba-hamba-Nya, yaitu:"Peringatkanlah olehmu sekalian,bahwasanya
tidak ada Ilah (yang hak) melainkan Aku, maka hendaklah kamu bertaqwa
kepada-Ku". (QS. 16:2), kerana kehidupan hakiki bagi hati tidak wujud
tanpa wahyu. Sehingga tanpa wahyu manusia dikatakan mayat walaupun bergerak di antara
manusia. Allah berfirman:
أَوَمَنْ
كَانَ مَيْتًا فَأَحْيَيْنَاهُ وَجَعَلْنَالَهُ نُورًا يَمْشِي بِهِ فِي النَّاسِ
كَمَنْ مَثَلُهُ فِي الظُّلُمَاتِ لَيْسَ بِخَارِجٍ مِّنْهَا كَذَلِكَ زُيِّنَ
لِلْكَافِرِينَ مَاكاَنُوا يَعْمَلُونَ
Dan apakah orang yang sudah
mati kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang,
yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan ditengah-tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gelita yang sekali-kali
tidak dapat keluar dari padanya. (QS. 6:122).
Di sini jelas sekali sisi
persamaannya. Pohon kurma hanya hidup dengan disiram air dan hati seorang
mukmin hanya hidup dengan siraman wahyu.
- Pohon kurma sangat kukuh,
sebagaimana firmanNya:
أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ
أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَآءِ تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ
بِإِذْنِ رَبِّهَا وَيَضْرِبُ اللهُ اْلأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ
يَتَذَكَّرُونَ
Tidakkah kamu kamu perhatikan
bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang
baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan
buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya.Allah membuat
perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat. (QS. Ibrohim
24-25)
Demikian juga iman jika telah mengakar didalam hati, maka
menjadi sangat kukuh dan tidak goyah sedikitpun, seperti kukuhnya gunung yang
besar menjulang.
Imam Al ‘Auzaa’iy ditanya tentang
iman, apakah bertambah? Beliau menjawab: “Ya, sehingga membesar seperti
gunung”. Ditanya lagi, apakah berkurang? Beliau menjawab: “Ya, sehingga tidak bersisa
sedikitpun”.
Demikian juga imam Ahmad bin Hambal ditanya tentang hal yang serupa dan
menjawab: “Bertambah sehingga mencapai lebih tinggi daripada langit yang tujuh
dan berkurang sehingga menjadi paling rendah daripada bumi yang ketujuh”.
- Pohon kurma tidak dapat
tumbuh di sebarangan tanah, bahkan hanya tumbuh di tanah tertentu yang
subur sahaja. Pohon kurma di sebahagian tempat tidak tumbuh sama sekali,
disebahagian lainnya tumbuh namun tak berbuah dan disebahagian lain tumbuh
berbuah tapi sedikit buahnya. Sehingga tidak semua tanah sesuai untuk
pohon kurma. Demikian juga iman, ia tidak kukuh pada semua hati. Ia hanya
akan kukuh pada hati orang yang Allah berikan hidayah dan berlapang dada
menerimanya. Sehingga tepatlah bila Rasulullah bersabda:
مَثَلُ
مَا بَعَثَنِي اللَّهُ بِهِ مِنْ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ
الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتْ الْمَاءَ
فَأَنْبَتَتْ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ
أَمْسَكَتْ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللَّهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا
وَزَرَعُوا وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا
تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ
اللَّهِ وَنَفَعَهُ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ
رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللَّهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
Permisalan petunjuk dan ilmu yang aku dapatkan dari
Allah adalah seperti permisalan air hujan yang deras menimpa bum. Ada diantara
tanah bumi itu Naqiyah, menerima air lalu menumbuhkan rumput dan tumbuhan yang
banyak. Ada juga ajaadib, menampung air lalu Allah memberikan manfaat kepada
manusia. Mereka minum, mengambil dan bercucuk tanam. Air hujan ini juga menimpa
sejenis tanah lain yaitu Qii’aan yang tidak menerima air dan tidak menumbuhkan
rumputan. Demikian itulah permisalan orang yang berilmu (faqih) di dalam agama
dan mengambil manfaat darinya.DiIa mengetahui dan mengajarkannya dan permisalan
orang yang tidak menganggapnya sama sekali dan tidak menerima petunjuk Allah
yang aku bawa.
- Pohon
kurma tidak dapat bercampur dengan tumbuhan pengganggu dan tumbuhan asing
yang bukan jenisnya. Mereka ini dapat mengganggu dan melemahkan
pertumbuhannya serta mengganggunya di dalam menyerap air. Oleh kerana itu
diperlukan perawatan khusus dan selektif daripada pemiliknya. Demikian
juga seorang mukmin, pasti menemui hal-hal yang dapat melemahkan iman dan
keyakinannya. Juga pasti menemui perkara yang dapat mendesak iman daripada
hatinya. Oleh kerana itu diperlukan bermuhasabah di dalam setiap waktu dan
bersungguh-sungguh menjaganya. Juga berusaha selalu menghilangkan segala
sesuatu yang mengotorinya, seperti was-was, mengikuti hawa nafsunya dan
lain-lainnya. Allah berfirman:
وَالَّذِينَ
جَاهَدُوا فِينَا لَنَهْدِيَنَّهُمْ سُبُلَنَا وَإِنَّ اللهَ لَمَعَ
الْمُحْسِنِينَ
Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami.Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik. (QS. 29:69).
- Pohon kurma memberikan hasilnya setiap waktu,
sebagaimana firman Allah :
تُؤْتِي
أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا
pohon itu memberikan buahnya
pada setiap waktu dengan seizin Rabbnya. (QS. Ibrohim 24-25).
Buah pohon ini dimakan waktu
siang dan malam, baik di musim dingin atau di musim panas. Dimakan di dalam
bentuk kurma (tamar) atau busr atau Ruthab.
Demikian juga seorang mukmin, amalan mereka naik pada pagi dan malam hari.
Rabi’ bin Anas menyatakan: “Makna firman Nya: كُلَّ حِينٍ adalah setiap pagi dan malam hari kerana
buah kurma selalu dapat dimakan di waktu malam dan siang, baik musim dingin
atau panas, baik berupa kurma, busr atau ruthab, demikian juga amalan seorang
mukmin naik pada pagi dan malam harinya”
Ibnu Jarir Ath Thobariy
menyatakan di dalam tafsir ayat ini: “Pendapat yang rajih menurutku adalah
pendapat yang menyatakan, makna (كُلَّ حِينٍ ) di dalam ayat ini adalah pagi dan malam, setiap saat kerana
Allah menjadikan hasil pohon ini setiap saat daripada buahnya untuk perumpamaan
amalan dan perkataan seorang mukmin. Padahal sudah pasti amalan dan perkataan
baik seorang mukmin diangkat kepada Allah setiap hari, bukan setiap setahun
atau setengah tahun atau dua bulan sekali. Jika demikian, maka jelaslah kebenaran
pendapat ini. Jika ada yang bertanya: “Pohon kurma mana yang menghasilkan buah
setiap saat buah yang dimakan pada musim panas dan dingin? Jawabnya: adapun di musim
dingin, maka Thol’ (mayang kurma) adalah buahnya dan di musim panas, maka balkh
,
busr, Ruthob dan kurma adalah buahnya. Jadi semuanya adalah buahnya”.
- Pohon kurma memiliki barakah di
dalam semua bahagiannya. Semua bahagiannya dapat dimanfaatkan. Demikian
juga seorang mukmin, sebagaimana sabda Rasulullah :
عَنْ
عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بَيْنَا نَحْنُ عِنْدَ
النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ جُلُوسٌ إِذَا أُتِيَ بِجُمَّارِ
نَخْلَةٍ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ مِنْ
الشَّجَرِ لَمَا بَرَكَتُهُ كَبَرَكَةِ الْمُسْلِمِ فَظَنَنْتُ أَنَّهُ يَعْنِي
النَّخْلَةَ فَأَرَدْتُ أَنْ أَقُولَ هِيَ النَّخْلَةُ يَا رَسُولَ اللَّهِ ثُمَّ
الْتَفَتُّ فَإِذَا أَنَا عَاشِرُ عَشَرَةٍ أَنَا أَحْدَثُهُمْ فَسَكَتُّ فَقَالَ
النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ هِيَ النَّخْلَةُ
Dari Abdillah bin umar beliau
berkata: “Ketika kamu duduk-duduk disisi Rasulullah tiba-tiba diberikan jamaar
(jantung kurma). Rasululloh lalu berkata: “Sesungguhnya terdapat satu pohon,
barakahnya seperti barakah seorang muslim”. Lalu aku merasakan itu adalah pohon
kurma lalu ingin aku sampaikan kepada dia bahawa ia adalah pohon kurma, wahai Rasululloh.
Kemudian aku melihat dan mendapati aku orang kesepuluh dan paling kecil, lalu
aku diam. Rasulullah berkata: “Ia adalah pohon kurma””.
Ibnu Hajar berkata: “Barakah pohon
kurma ada pada semua bahagiannya, senantiasa ada di dalam setiap keadaannya.
Daripada mulai tumbuh sehingga kering, dimakan semua jenis buahnya, kemudian
setelah itu seluruh bahagian pohon ini dapat diambil manfaatnya sehingga bijinya
digunakan sebagai makannan ternak. Demikian juga seabutnya dapat dijadikan
sebagai tali serta yang lainnyapun demikian. Hal ini sudah jelas. Demikian juga
barakah seorang muslim meliputi seluruh keadaannya. Juga manfaatnya terus
menerus ada untuknya dan untuk orang lain sehingga setelah matinyapun”.
- Pohon kurma disifatkan
Rasulullah لَا يَسْقُطُ وَرَقُهَا .
Sisi persamaannya dengan muslim dijelaskan di dalam riwayat Al haarits bin
Abi Usamah dari hadits Ibnu Umar dari periwayatan yang lainnya dengan
lafadz:
كُنَّا
عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ فَقَالَ
إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ الشَجَرَةِ لَا تَسْقُطُ لَهَا أَنْمُلُةٌ
أَتَدْرُوْنَ مَا هِيَ قَالُوا لاَ قَالَ هِيَ النَّخْلَةُ لَا تَسْقُطُ لَهَا
أَنْمُلُةٌ وَ لَا تَسْقُطُ لَمُؤْمِنٍ دَعْوَةٌ
Kami berada bersama Rasulullah
pada satu hari, lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya permisalan seorang mukmin
seperti permisalan pohon yang tidak gugur daunnya. Tahukah kalian pohon apa
itu?” Mereka berkata: “tidak” Lalu beliau menjawab: “ia adalah pohon kurma
tidak gugur daunnya dan seorang mukmin tidak gugur do’anya”.
Jadi
jelaslah sisi persamaan di antara keduanya. Telah dimaklumi do’a telah
disyariatkan dan dijanjikan akan dikabulkan sebagaiman firman Allah:
وَقَالَ
رَبُّكُمُ ادْعُونِي أَسْتَجِبْ لَكُمْ إِنَّ الَّذِينَ يَسْتَكْبِرُونَ عَنْ
عِبَادَتِي سَيَدْخُلُونَ جَهَنَّمَ دَاخِرِينَ
Dan Rabbmu berfirman:"Berdo'alah kepada-Ku,nescaya
akan Ku-perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri
daripada menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam di dalam keadaan hina
dina". (QS. 40:60)
Akan tetapi do’a akan dikabulkan
dengan kesempurnaan syarat dan tidak adanya penghalang. Kadang-kala tidak
dikabulkan kerana tidak cukup sebahagian syaratnya atau kewujudann sebahagian
penghalangnya. Adabnya yang paling penting adalah kehadiran hati, pengharapan
terkabulnya do’a dan tekad/azam di dalam masalah tersebut.
Ibnul Qayyim memberikan makna
lain terhadap hadits ini dengan menyatakan hal ini menunjukkan kekonsistenan
pohon kurma menjadikannya sebagai pakaian dan perhiasan, sehingga tidak gugur
pada musim dingin dan panas. Demikian juga seorang mukmin senantiasa konsisten
memakai pakaian ketaqwaan dan perhiasannya sehingga menghadap rabbnya.
- Pohon
kurma disifatkan di dalam ayat dengan thoyiibah (baik). Ini meliputi baik di
dalam pemandangan, gambar dan bentuk. Juga meliputi baik di dalam rasa,
buah dan manfaat. Demikian juga seorang mukmin memiliki sifat baik di dalam
segala urusan dan keadaannya, baik dzahir ataupun bathin. Oleh kerana itu
ketika kaum mukminin masuk syurga terus disambut para malaikat penjaganya
dengan menyatakan:
وَسِيقَ
الَّذِينَ اتَّقَوْا رَبَّهُمْ إِلَى الْجَنَّةِ زُمَرًا حَتَّى إِذَا جَآءُوهَا
وَفُتِحَتْ أَبْوَابُهَا وَقَالَ لَهُمْ خَزَنَتُهَا سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ طِبْتُمْ
فَادْخُلُوهَا خَالِدِينَ
Dan orang-orang yang bertaqwa
kepada Rabbnya dibawa ke syurga berombong-rombongan (pula).Sehingga apabila
mereka sampai ke syurga itu sedang pintu-pintunya telah terbuka dan berkatalah
kepada mereka penjaga-penjaganya:"Kesejahteraan (dilimpahkan) ke atasmu,
berbahagialah kamu! maka masukilah syurga ini, sedang kamu kekal di
dalamnya" (QS. 39:73) dan firmanNya:
الَّذِينَ
تَتَوَفَّاهُمُ الْمَلاَئِكَةُ طَيِّبِينَ يَقُولُونَ سَلاَمٌ عَلَيْكُمُ
ادْخُلُوا الْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ
(iaitu) orang-orang yang
diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada
mereka):"Salaamun'alaikum, masuklah kamu ke dalam syurga itu disebabkan
apa yang telah kamu kerjakan". (QS. 16:32
)
serta firman Allah :
إِنَّ
اللهَ يُدْخِلُ الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ جَنَّاتٍ تَجْرِي
مِن تَحْتِهَا اْلأَنْهَارُ يُحَلَّوْنَ فِيهَا مِنْ أَسَاوِرَ مِن ذَهَبٍ
وَلُؤْلُؤًا وَلِبَاسُهُمْ فِيهَا حَرِيرٌ وَهُدُوا إِلَى الطَّيِّبِ مِنَ
الْقَوْلِ وَهُدُوا إِلَى صِرَاطِ الْحَمِيدِ
Sesungguhnya Allah mamasukkan
orang-orang beriman dan mengerjakan amal yang saleh ke dalam syurga-syurga yang
di bawahnya mengalir sungai-sungai. Di syurga itu mereka diberi perhiasan
dengan gelang-gelang daipada emas dan mutiara, dan pakaian mereka adalah
sutera.
Dan mereka diberi petunjuk kepada ucapan-ucapan yang baik
dan ditunjuki(pula) kepada jalan (Allah) yang terpuji. (QS. 22:23-24)
- Pohon
kurma disifatkan dengan sabda Rasululloh:
إِنَّ مَثَلَ الْمؤْمِنِ كَمَثَلِ
النَّخْلَةُ ماَ أَخَذَتَ مِنْ شَيْئٍ نَفَعَكَ
Sesungguhnya permisalan mukmin
seperti pohon kurma. Tidaklah kamu mengambil sesuatu daripadanya, nescaya
bermanfaat bagimu.
Pohon kurma seluruhnya bermanfaat, demikian juga seorang mukmin ketika bergaul
dengan teman dan sekitarnya. Ia tidak menampakkan kecuali akhlak yang mulia,
adab budi pekerti yang luhur, muamalah baik, memebrikan kebaikan dan tidak
mengganggu mereka. Selalu memberikan manfaat kepada mereka dalam seluruh pergaulannya.
- Pohon
kurma memiliki perbezaan antara satu dengan yang lainnya. Perbezaan di dalam
bentuk, jenis dan buahnya. Pohon kurma tidak hanya satu tingkat dalam
kebagusan dan kualiti, sebagaimana firman Allah :
وَفِي
اْلأَرْضِ قِطَعٌ مُّتَجَاوِرَاتٌ وَجَنَّاتٌ مِّنْ أَعْنَابٍ وَزَرْعٌ وَنَخِيلٌ
صِنْوَانٌ وَغَيْرُ صِنْوَانٍ يُسْقَى بِمَآءٍ وَاحِدٍ وَنُفَضِّلُ بَعْضَهَا
عَلَى بَعْضٍ فِي اْلأُكُلِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لأَيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَعْقِلُونَ
Dan di bumi ini terdapat bahagian-bahagian
yang berdampingan, dan kebun-kebun anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang
bercabang, disirami dengan air yang sama.Kami melebihkan sebahagian
tanam-tanaman itu ke atas sebahagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya
pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang
berfikir. (QS. 13:4)
demikianlah pohon
kurma berbeza di dalam rasa, bentuk dan jenisnya, sebagiannya lebih baik dari
sebagian yang lainnya.
Demikian juga keadaan antaar kaum
mukminin. Kaum mukminin bertingkat-tingkat keimanannya dan tidak hanya satu
tingkat di dalam iman. Allah berfirman:
ثُمَّ
أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ
ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ
بِإِذْنِ اللهِ ذَلِكَ هُوَالْفَضْلُ الْكَبِيرُ
Kemudian Kitab itu Kami
wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih diantara hamba-hamba Kami, lalu di antara
mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang
pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan
dengan izin Allah.Yang demikian itu itu adalah kurnia yang amat besar. (QS.
35:32).
- Pohon
kurma termasuk pohon yang paling sabar menghadapi angin dan ributnya.
Kebanyakan tumbuhan tidak mampu sabar bertahan daripada kekeringan air
seperti kesabaran pohon kurma. Demikian juga seorang mukmin selalu sabar di
dalam menghadapi bala, malapetaka dan musibah. Berkumpul pada seorang
mukmin kesabaran dengan ketiga jenisnya, iaitu sabar di dalam ketaatan Allah,
sabar daripada kemaksiatan dan sabar menghadapi takdir yang menyedihkan.
Allah berfirman:
وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ
بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ اْلأَمْوَالِ وَاْلأَنفُسِ
وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ الَّذِينَ إِذَآ أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ
قَالُوا إِنَّا للهِ وَإِنَّآ إِلَيْهِ رَاجِعُونَ أُوْلآئِكَ عَلَيْهِمْ
صَلَوَاتُُ مِّن رَّبِّهِمْ وَرَحْمَةٌ وَأُوْلآئِكَ هُمُ الْمُهْتَدُونَ
Dan sungguh akan Kami berikan
cubaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa
dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar,
(iaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka
mengucapkan:"Innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji'uun". Mereka itulah
yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat daripada Rabbnya, dan
mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. 2:155-157)
Dan firmanNya:
قُلْ
يَاعِبَادِ الَّذِينَ ءَامَنُوا اتَّقُوا رَبَّكُمْ لِلَّذِينَ أَحْسَنُوا فِي
هَذِهِ الدُّنْيَاحَسَنَةٌ وَأَرْضُ اللهِ وَاسِعَةٌ إِنَّمَا يُوَفَّى
الصَّابِرُونَ أَجْرَهُم بِغَيْرِ حِسَابٍ
Katakanlah:"Hai
hamba-hamba-Ku yang beriman, bertaqwalah kepada Rabbmu".Orang-orang yang
berbuat baik di dunia ini memperoleh kebaikan. Dan bumi Allah itu adalah
luas.Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala
tanpa batas. (QS. 39:10)
- Pohon
kurma semakin tua semakin bertambah baik dan tinggi kualitinya. Demikian
juga seorang mukmin jika panjang usianya maka bertambah kebaikan dan amal
sholehnya. Imam At Tirmidziy meriwayatkan dari sahabat Abdullah bin Busr,
beliau berkata:
أَنَّ
أَعْرَابِيًّا قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَنْ خَيْرُ النَّاسِ قَالَ مَنْ طَالَ
عُمُرُهُ وَحَسُنَ عَمَلُهُ
Seorang a’robiy bertanya kepada Rasulullah: “Wahai
Rasulullah siapakah orang yang terbaik? Rasulullah n bmenjawab: “Orang yang
panjang umur dan baik amalannya”.
- Pohon
kurma tidak pernah berhenti memberi manfaat walaupun gagal berbuah.
Manusia dapat mengambil pelepah, daun dan sabutnya untuk kegunaan yang
banyak. Demikian juga seorang mukmin tidak pernah lepas daripada kebaikan.
Selalu mengeluarkan kebaikan dan terjaga daripada berbuat kejelekan,
sebagaimana sabda rasulullah:
أَلَا
أُخْبِرُكُمْ بِخَيْرِكُمْ مِنْ شَرِّكُمْ قَالَ فَسَكَتُوا فَقَالَ ذَلِكَ
ثَلَاثَ مَرَّاتٍ فَقَالَ رَجُلٌ بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ أَخْبِرْنَا
بِخَيْرِنَا مِنْ شَرِّنَا قَالَ خَيْرُكُمْ مَنْ يُرْجَى خَيْرُهُ وَيُؤْمَنُ
شَرُّهُ وَشَرُّكُمْ مَنْ لَا يُرْجَى خَيْرُهُ وَلَا يُؤْمَنُ شَرُّهُ
Maukah
kalian aku beritahu orang terbaik dari terjelek daripada kalian. Lalu beliau
mengulanginya tiga kali. Lalu seorang bertanya: “Wahai Rasulullah beritahulah
kami tentang orang terbaik dari terjelek daripada kami” Rasulullah menjawab:
“orang terbaik daripada kalian adalah orang yang diharapkan kebaikannya dan
aman daripada kejelekannya dan orang terjelek adalah orang yang tidak
diharapkan kebaikannya dan manusia tidak aman daripada kejelekannya”.
Imam Ikrimah menafsirkan firman
Allah : كَشَجَرَةٍ
طَيِّبَةٍ dengan
menyatakan: “Dialah pohon kurma yang senantiasa memberi manfaat”.
Demikian juga seorang mukmin
senantiasa memberi manfaat sesuai dengan bahagian dan kekuatan imannya.
- Pohon
kurma mudah dipetik buahnya kerana pohon kurma kadang-kala pendek sehingga
mudah memetiknya dan kadang-kala tinggi dan besar. Walaupun besar masih
mudah memanjatnya dibandingkan dengan memanjat pohon lain yang
setingginya. Ini kerana terdapat tangga dan tempat memijak sehingga ke atas.
Demikian juga seorang mukmin mudah mengambil kebaikan darinya.
- Buah
kurma termasuk buah yang paling bermanfaat kerana ruthabnya dimakan
sebagai buah-buahan dan manis. Juga kurma yang telah kering menjadi
makanan pokok, lauk dan buah serta dapat dihasilkan daripadanya cuka dan
pemanis. Kurma juga dibuat sebagai ubat dan minuman. Manfaatnya sudah
cukup jelas bagi yang menggunakannya. Demikian juga mukmin memiliki
keumuman manfaat dan keaneka ragaman kebaikan dan kebagusaannya.
Ditambah lagi buah kurma memiliki
rasa manis dan iman pun memiliki rasa manis yang tidak dapat merasakannya
kecuali orang yang memiliki iman yang benar. Oleh kerana itu Rasululah
bersabda:
ثَلَاثٌ
مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ
أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ
إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ
يُقْذَفَ فِي النَّارِ
Tiga perkara, jika seorang
memilikinya eiscaya merasakan manisnya iman, menjadikan Allah dan RasulNya
lebih dicintai daripada yang lainnya dan mencintai seseorang hanya kerana Allah
serta benci kembali kepada kekufuran sebagaimana benci dilemparkan kedalam api.
Imam Abu Muhammad bin Abi Jamroh
menyatakan: “Diibaratkan dengan rasa manis dalam hadits ini kerana Allah
menyerupakan iman dengan pohon dalam firmanNya:
أَلَمْ
تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللهُ مَثَلاً كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ
Kalimat didalam ayat ini adalah
kalimat ikhlas dan pohonnya adalah pokok iman, cabangnya adalah mengikuti
perintah dan menjauhi larangan. Sedang daunnya adalah kebaikan yang
diperhatikan seorang mukmin, buahnya adalah ketaatan”.
- Persamaan
sifat pohon kurma dengan sifat mukmin sehingga Ibnul Qayyim menyatakan:
“Sebahagian orang ada yang telah menyamakan manfaat-manfaat ini (manfaat
pohon kurma) dengan sifat muslim. Mereka menjadikan setiap manfaat darinya
dihadapkan dengan satu sifat muslim. Ketika sampai pada duri pohon kurma,
maka dihadapkan kepada sifat keras dan tegas terhadap musuh Allah dan
orang fajir. Sehingga kekerasan dan ketegasan terhadap mereka (para
musuh tersebut) seperti kedudukan duri pohon kurma dan sikap mereka terhadap
mukmin yang taqwa seperti kedudukan ruthab yang manis dan lembut. Allah
berfirman:
أَشِدَّآءُ
عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَآءُ بَيْنَهُمْ
keras terhadap orang-orang
kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka:. (QS. 48:29)
oleh kerana itu para ulama yang
terkenal keras dan tegas dalam membantaha orang-orang bathil dinamakan duri
dileher mereka.
Demikianlah di antara persamaan
yang ada. Para
pensyarah hadits ini memberikan beberapa
persamaan yang lainnya, namun semuanya lemah dan sebahagiannya batil. Imam Ibnu
Hajar telah meringkasnya di dalam kitab Fathul Bariy dengan menyatakan: “Adapun orang yang menganggap letak
persamaan di antara muslim dengan pohon kurma dari sisi: jika dipotong
kepalanya ia akan mati, atau kerana pohon kurma tidak berbuah tanpa perkahwinan,
atau ia mati dengan ditenggelamkan, atau bau putik sarinya seperti mani manusia
atau ia minum daripada bagian atasnya. Semuanya ini lemah, kerana sisi persamaan
tersebut juga untuk seluruh manusia tidak khusus kepada muslim. Yang lebih
lemah lagi adalah pernyataan bahwa pohon kurma diciptakan daripada tanah sisa
penciptaan adam kerana hadits yang menunjukkannya tidak shohih, Wallahu a’laam”.
Dengan demikian telah kita
ketahui iman adalah pohon mubarokah yang memiliki manfaat dan faedah besar serta
buah hasil. Iman memiliki tempat khusus penanaman dan siraman khusus, juga
memiliki pokok, cabang dan buah. Tempatnya adalah hati seorang mukmin,
siramannya adalah wahyu dan pokoknya adalah rukun iman yang enam. Sedangkan
cabangnya adalah amalan sholeh dan ketaatana yang beraneka ragam yang dilakukan
seorang mukmin dan buahnya adalah semua kebaikan dan kebahagiaan yang dirasakan
seorang mukmin didunia dan akherat. Inilah diantara buah dan hasil iman.
Wallahu a’lam bis Showaab.
Faedah yang diambil dari Hadits.
Diantara faedah yang diambil dari
hadits ini adalah:
- orang
yang diberi teka-teki hendaklah memerhatikan indicator yang menunjukkan
jawapannya.
- Ujian
seorang alim terhadap muridnya tentang sesuatu yang belum jelas dan
menjelaskannya jika mereka belum faham.
- Motivasi
untuk memamahami ilmu. Imam Bukhori membuat bab untuk hadits ini bab Fahm
fil Ilmu
- Dhorbul
Amtsal dan asybah untuk menambah faham
- Soal
jawab.
- Penggambaran
makna untuk mengukuhkan pemahaman
- Tasybih
sesuatu dengan sesuatu tidak mesti harus sama di dalam setiap sisi
- Imam
memberikan permasalahan kepada anak buahnya untuk menguji ilmu yang
dimiliki mereka. (Bukhori)
- Ulama besar
kadang-kala tidak tahu sesuatu yang diketahui orang yang dibawahnya kerana
ilmu itu pemberian Allah.
- Malu
dianggap baik selama tidak melepaskan maslahat yang ada.
- Mengutamakan
orang yang lebih tua.
Wassalam
Di edit oleh Abu Usamah
http://groups.yahoo.com/group/assunnah/message/32189
Lihat makalah Syeikh Abdirrozaaq Al ‘Abaad dalam majalah Al Jaami’ah Al
Islamiyah edisi 107 tahun 29, 1418-1419 hal 205
Recent Comments